BAB I
PENDAHULUAN

Dalam Mukadimah-nya, Ibn Al-Khaldun menulis, “Ilmu ini (yakni tasawuf) salah satu ilmu syariat baru di dalam agama Islam. Sebenarnya, metode kaum ini (kaum sufi) telah ada sejak masa para sahabat, tabiin dan ulama-ulama penerusnya, sebagai jalan kebenaran dan petunjuk. Inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan hubungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah. Praktek ini populer di kalangan para sahabat dan ulama terdahulu. Ketika tren mengejar dunia menyebar di abad kedua dan setelahnya, manusia mulai tenggelam dalam kenikmatan duniawi, orang-orang yang menghususkan diri mereka kepada ibadah disebut sufi.”
Ada sebagian orang bertanya, adakah istilah tasawuf pada zaman Rasulullah Saw? Tentu jawabannya tidak ada. Sebab, penamaan cabang-cabang ilmu syariat belum ada pada zaman Rasulullah Saw, tetapi praktek cabang-cabang ilmu tersebut sudah ada sejak zamannya. Misalnya ilmu tafsir, penamaannya baru populer setelah abad ke-2 H yang dipelopori oleh para penulis perdana dalam cabang ilmu ini seperti, Syu’bah bin Hajjaj, Sufyan bin Uyainah dan Waki’ bin Jarah, padahal praktek penafsiran sudah ada sejak zaman Rasulullah Saw. Begitu juga ilmu tasawuf dan cabang-cabang ilmu syariat yang lain.
Di dalam makalah ini, akan dijelaskan bagaimana pendapat-pendapat mengenai sejarah dan perkembangan Tasawuf Salafi (Akhlaki), Falsafi, dan Syi’i.




BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH PERKEMBANGAN TASAWUF SALAFI (AKHLAQI),
 FALSAFI DAN SYI’I
A.    Perkembangan Tasawuf Akhlaqi Dan Falsafi
Pada perkembangannya tasawuf digolongkan menjadi dua, yaitu tasawuf yang mengarah pada teori-teori perilaku disebut Taswuf Akhlaqi, dan Taswuf yang mengarah pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman yang mendalam disebut Tasawuf Falsafi.
Pada mulanya tasawuf merupakan perkembangan tentang makna intuisi-intuisi Islam. Sejak zaman sahabat dan tabi’in kecenderungan pandangan orang hidip terhadap ajaran Islam secara lebih analisis sudah muncul.
Perkembangan Tasawuf dan Islam telah mengalami beberapa fase. Pertama, yaitu fase asketis (zuhud) yang tumbuh pada akad pertama dan kedua Hijriyah sikap asketis ini dipandang sebagai pengantar tumbuhnya tasawuf. Pada fase ini terdapat individu-individu dari kalangan Muslim yang lebih memusatkan diri pada Ibadah. Tokoh yang sangat popular di kalangan mereka adalah Hasan Al-Basri (wafat 110 H), Robi’ah Al-Adawiyah (wafat 185 H).
Pada abad ketuga Hijriyah para sufi mulai pengaruh perhatian pada hal-hal yang berkaitan dengan jiwa dan tingkah laku, kaum salaf lebih tertuju pada realitas pengamalan Islam dalam prakyek yang lebih menekankan perilaku manusia yang terpuji. Tasawuf pada abad ini telah menjadi ilmu moral keagamaan atau akhlak keagamaan yang membahas tentang moral, akhirnya mendorong untuk semakinmengkaji hal-hal yang berkaitan dengan akhlak. Namun pada abad ketiga ini pula muncul jenis Tasawuf yabg lebih menonjolkan pemikiran yang eksklusif, tasawuf ini diwakili oleh Al-Halaj yang kemudian dihukum matikarena pendapatnya tentang hulul (pada 309 H). karena pada saat itu hulul nya sangat controversial dengan masyarakat yang tengah menggandrungi tasawuf akhlaki. Kehadiran al-Hlaj membahayakan pemikiran umat, banyak pengamat menilai bahwa tasawuf jenis ini terpengaruh unsure-unsur diluar Islam.
Pada abad kelima Hijriyah muncul Imam Al-ghozali yang sepenuhnya hanya menerima tasawuf yabg berdasarkan Al-qur’an dan hadits bertujuan asketis, kehidupan sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral. Ia meluncurkankritik tajam terhadap filosof kaum mu’tazilah dan batiniyah. Al-Ghozali berhasil mengenalkan prinsip-prinsip tasawuf yang yang moderat yang seiring dengan aliran ahlu sunnah waljama’ah, pada abad ini taswuf yang telah diperbaharui oleh Akl-Ghozali telah mencapai puncak kejayaan dan sebalknya tasawuf falsafi mengalami kemunduran dan mulai tenggelam.
Pada abad keenam Hijriyah sebagai akibat pengaruh kepribadian Al-Ghozali yang begitu besar, pengaruh tasawuf ini semakion menyebar ke pelosok dunia Islam, hal ini mendorong munculnya para tokoh sufi yang mengembangkan tarikat-tarikat untuk mendidik para murid mereka seperti Sayyid Ar-Rifa’I (wafat 570 H) dan Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani (wafat 651 H)
Tasawuf falsafi memadukan tasawuf mereka dengan filsafat dengan  teori mereka yang bersifat setengah-setengah yaitu tidak dapat murni disebut taswuf dan tidak dapat murni disebut filsafat, tokoh-tokohnya antara lain Syeikh Rawardi Al-Maqtul (wafat 549 H), dan Syeikh Akbar Muhyiddim Ibnu Arabi (wafat 638H). mereka banyak menimba berbagai sumber dan pendapat asing seperti filsafat Yunani dan khususnya neo-Platonisme, mereka pun banyak mempunyai teori-teori mendalam mengenai jiwa moral pengetahuan wujud dan sangat bernilai baik ditnjau dari segi tasawuf maupun filsafat dan berdampak besar bagi para sufi muaakhir.
Diluar aliran tasawuf diatas ada juga yang memasukan tasawuf yang ketigayaitu tasawuf syi’I dan syiah golongan syiah  merupakan golongan yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, dalam sejarah perang shiffin golongan panatik ini banyak tinggal di daratan Persia aliran tasawuf ini levih dekat dengan tasawuf falsafi.





B.     Sistem Pembinaan Akhlak Dalam Tasawuf Akhlaki

1.    Takhlalli
Takhlalli adalah upaya mengosongkan diri dari perilaku atau akhlak tercela hal ini dapat dicapai ditengah jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segal bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu.
2.      Tahalli
Tahalli adalah upaya mengisi atau menghiasi diri dengan jalan membiasakan diri dengan sikap, perilaku, dan akhlak terpuji. Sikap, mental, dan perbuatan baik manusia sangat penting diisikan ke dalam jiwa manusia dan dan dibiasakan dalam jalam perbuatan dalam rangka pembentukan manisia Paripurna, antara lain sebagai berikut :
a.      Tobat yaitu rasa penyelesaian sungguh-sungguh dalam hati yang disertai permohonan ampun serta berusaha meninggalkan segala perbuatan yang menimbulkan dosa.
b.      Cemas dan harap (khauf dan raja’) yaitu sikap mental yang bersikap introspeksi mawas diri dan selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan abadi.
c.       Zuhud yaitu sikap melepaskan diri dan dari rasa ketergantungan trhadap kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat.
d.      Al-Faqr yaitu sikap fikir merupakan benteng pertahanan yang kuat dalam menghadapi pengaruh kehidupan materi.
e.       Al-Shabru artinya sebagai sesuatu keadaan jiwa yang kokoh, stabil, dan konsekwen dalm pendirian.
f.        Rida yaitu menerima dengan lapang dada dan terbukaterhadap apa saja yang dating dari Allah baik dalam menerima serta melaksanakan ketentuan-ketentuan agama maupun yang berkenaan dengan masalah nasib dirinya.
g.      Muraqabah.



3.      Tajalli
Tajalli berarti terungkapnya nur ghaib agar hasil yang diperoleh jiwa dan organ-organ tubuhyang terisi dengan butir-butir mutiara akhlak dan sudah melakukan perbuatan-perbuatan yang luhur tidak berkurang maka makna ketuhanan dihayati lebih lanjut.


C.    Karakteristik Tasawuf Sunni Dan Tasawuf Falsafi
Karakteristik tasawuf sunni antara lain:
1.      Melandaskan pada Al-Qur’an dan Assunnah sebagai kerangka pendekatannya.
2.      Lebih mengajarkan dualism dalam hubungan antara Tuhan maksudnya sedekat apapun manusia dengan Tuhan tidak lantas membuat manusia menyatu dengan Tuhan.
3.      Kesinambungan antara hakikat dan syari’at.
4.      Lebih konsentrasi pada pembinaa, pendidikan akhlak, dan pengobatan jiwa dengan cara riyadah (latihan mental dan langkah Takhalli, Tahalli, dan tajalli.
Karakteristik tasawuf falsafi:
1.      Tasawuf falsafi banyak mengonsepsikan pemahaman ajaran-ajaran dengan menggabungkan pemikiran rasionalfilosofi dengan perasaan.
2.      Tasawuf ini didasarkan pada latihan (riyadah) yang dimaksud untuk peningakatan moral yakni untuk mencapai kebahagiaan.
3.      Memandang iluminasi sebagai metode untuk mengetahui hakikat realitas yang menurut penganutnya dapat dicapai dengan fana.
4.      Para pengamat tasawuf ini selalu menyamarkan ungkapan-unglapan tentang hakikat realitas dengan berbagai symbol atau terminologi.




BAB III
KESIMPULAN

Ø Pada dasarnya, perkembangan ilmu tasawuf ini, terjadi karena adanya perbedaan pendapat para sufi. Sehingga timbullah berbagai macam paham di dalam dunia kesufian. Paham-paham tersebut masing-masing memilikitujuan yang berlainan , sehingga terjadi perbedaan yang mencolok antara paham yang satu dengan yang lain
Ø Diantara peneliti-peneliti tasawuf membagi tasawuf kedalam tiga bagian:Tasawuf Akhlaqi, Taswuf Falsafi dan Tasawuf Syi’i 
Ø Tasawuf diciptakan sebagai media untuk mencapai maqashid al-Syar’i (tujuan-tujuan syara’). Karena bertasawuf itu pada hakikatnya melakukan serangkaian ibadah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain sebagainya, yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Related Post :